Jumat, 02 Maret 2018

# home

Sudah Beli Rumah Second, Lalu Apa?

Alhamdulillah kami sekeluarga diberikan rezeki sehingga bisa membeli rumah di Jogja. Akhirnya setelah perjuangan yang super duper panjang yang melelahkan, rumah yang kami incar berhasil kami dapatkan. Walaupun saat ini sertifikat balik nama masih diurusin sama notaris, setidaknya kunci rumah dari pemilik sebelumnya sudah ada di tangan kami..horeee..


Sejujurnya keadaan rumah second ini agak tidak terawat. Maklum, pemilik rumah sebelumnya mengontrakkan rumah ini ke mas-mas mahasiswa gitu. Pada saat kami survey rumah, yang mana itu saat malam hari, kami ga melihat ada kejanggalan sama sekali lho. Kami langsung merasa cocok aja, rumahnya cukup luas, bersih, sirkulasi udara bagus, air lancar dan yang penting harganya ga semencekik rumah baru.

Yang bikin kami agak ga cocok saat itu adalah dapur yang semi terbuka. Jadi di sebelah dapur ada kolam ikan tak terpakai dengan atap terbuka gitu, dan belakangnya langsung berbatasan dengan sawah. Kami pikir, ga masalah lah nanti bisa direnovasi.

Permasalahan datang saat kami sudah menerima kunci rumah dari penjual sebelumnya. Saat masuk rumah itu, keadaannya sangat memprihatinkan. Jadi pengontrak lama tuh kayaknya ga merawat rumah ini dengan baik. Banyak sampah daun di kolam belakang, banyak rumput ilalang di halaman depan, lantai rumah pun juga ga disapu, penutup kloset kamar mandi pun juga rusak, plus air dari sanyonya ga mengalir. Hmmm..pokoknya banyak part yang bikin kami mengelus dada. Sampai ada perasaan "Salah ya kami beli rumah second, kok keadaannya gini banget, mending nabung lagi buat beli rumah baru".
Halaman depan dengan ilalang
Tapi kami sadar, daripada bermuram durja trus jadi negatif thinking, akhirnya kami mikirin gimana caranya bikin rumah ini jadi layak huni sesuai standart kami. Kami membuat list part-part apa saja yang perlu diperbaiki dan direnovasi. Proses perbaikan atau renovasi inipun sambil jalan karena sambil menyesuaikan kantong kami yang pas-pasan. Karena bugdet yang terbatas itu, proses renovasi ini kira-kira total memakan waktu sekitar empat bulan. Lama yaa..wkwkwk..

Ceritanya selama empat bulan itu kami juga udah gonta-ganti tukang. Hmmm, memilih tukang ini emang susah-susah gampang. Jadi saat pertama renovasi kami pakai jasa tukang yang direkomendasikan seseorang. Nah kesepakatannya adalah sistem harian, Rp. 100.000 per hari bersih. Karena Senin - Jumat kami bekerja dan baru balik di sore hari, kami ga mungkin mengawasi tukang tersebut. Akhirnya kami mengimport om suami dari Malang untuk mengawasi kinerja kedua tukang tersebut.

Hasilnya gimana? Hmmm, di hari pertama progressnya cukup baik. Tetapi di hari-hari berikutnya seperti tidak ada progress, lemot banget kerjaannya. Jadinya secara berat hati kami mengganti satu tukang itu dengan tukang lain yang juga direkomendasikan seseorang. Tukang baru ini pun juga mengunjukkan gigi di hari pertama saja, di hari selanjutnya seperti mokong. Beliau mengerjakan task sesuai dengan kemauannya sendiri, tidak seperti yang client inginkan.

Suami dan saya mulai kelabakan, karena uang biaya tukang harian terus mengucur sementara progressnya lemot banget. Akhirnya kami mencoba sistem tukang rombongan. Tapi sayang tukang tersebut ga mau pakai sistem rombongan. Dengan berat hati juga kami menyudahi kontrak kerja tukang tersebut. Ayah Sakha mulai survey-survey tukang lagi yang bersedia dikontrak rombongan.

Alhamdulillah kami nemu tukang yang cocok, sayangnya beliau ga punya handphone. Jadi kami menghubungi beliau lewat HP anaknya. Kami sudah jelaskan apa yang kami mau, dan beliau setuju dengan nominal yang kami tawarkan. Akhirnya beliau memulai kerjanya. Seperti biasa, di awal-awal memang terlihat bagus progressnya. Tapi setelah itu, beliau jarang datang. Trus ada beberapa part yang missed, jadinya dibongkar pasang ulang lagi. Jadi dugaan kami beliau tu kayak punya sambilan nukang di perumahan lain, karena beliau ga kasih alesan kenapa kok ga datang. Kami stress juga, bener memang kerjaan beliau selesai semua, tapi memakan waktu yang lumayan lama.

Oke, tahap renovasi sudah hampir selesai. Sekarang tinggal tahap finishingnya aja yaitu mengecat rumah. Saya jadi mikir, kenapa saat survey dulu cat rumah ini tampak baik-baik saja sedangkan setelah rumah ini dibeli tampak catnya mengenaskan, mengelupas dan jamur dimana-mana. Karena merasa sedikit trauma dengan jasa tukang, akhirnya kami memilih untuk menggunakan jasa CV. Kebetulan suami menemukan CV yang mempunyai rating bagus di internet. Harganya mungkin agak sedikit mahal, tapi setidaknya kami tenang karena ini menggunakan jasa yang terpercaya.

Setelah deal dengan pihak CV, musibah datang. Jogja dirundung hujan deras selama tiga hari berturut-turut. Alhasil rumah yang belum kami tempatin itu bocor semua. Kami sedih lah! Perasaan salah beli rumah sempat menghantui kami, tapi temen-temen kami berusaha menenangkan. Mereka bilang, untung bocornya ketahuan sekarang saat belum ditempati. Misal ketahuannya pas ditempati kan malah repot dua kali. Trus temen-temen yang lain juga bilang kalau rumah mereka yang bangunan baru aja juga bocor parah. Hohoho.. hati kami jadi sedikit tenang.

Karena bocor dimana-mana itulah kami harus mencari tukang lagi untuk membetulkan atap rumah kami. Pihak CV ga mau memulai kerjanya kalau kasus bocor ini belum ditangani. Akhirnya kami minta rekomendasi tukang dari teman kantor. Kebetulan ada tetangga teman kantor yang berprofesi sebagai tukang, beliau juga merekomendasikan tetangganya tersebut. Akhirnya kami menggunakan jasa tetangga beliau.

Alhamdulillah tukang ini beda sama tukang-tukang sebelumnya, beliau rajin dan bertanggung jawab. Selain itu beliau juga sering memberi masukan tentang solusi-solusi permasalahan kebocoran. Usut punya usut ternyata bocor parah ini disebabkan oleh kanopi yang kami pasang di halaman belakang. Pihak pemasang kanopi ~yang merupakan CV juga, namun CV yang berbeda dengan pihak pengecatan rumah~ mereka kayak asal-asalan kerjanya. Untuk benerin posisi pintu bukaan kanopi yang harusnya membuka ke atas (bukan digeser) pun mereka tak kunjung merespon. Padahal dari awal kami udah state kalau kami pengen bukaan atas, mereka malah pasang bukaan geser. Itupun jadi bikin kanopi susah dibuka. Hmmm..sekali lagi kami harus bersabar.

Tukang rekomendasi dari teman ini bekerja sangat baik. Pekerjaannya pun selesai tepat waktu sesuai kesepakatan sistem borongan. Setelah rumah ga bocor lagi, tahapan pengecatan siap dilakukan. Sayang pengecatan ini sempat terpotong lagi karena pihak CV bilang plafon kamar belakang harus diganti karena keadaannya sudah tidak layak, mau jebol gitu. Yes, bener aja plafonnya lapuk banget plus banyak tetesan air disana. Akhirnya plafon itu diganti dulu, setelahnya pihak CV melanjutkan proses pengecatan.
Plafon yang mau jebol
Proses pengecatan ini juga terbilang lumayan lama, karena terpotong libur akhir tahun juga. Selain itu supervisor CV juga mengalami musibah diopname di RS. Yasudahlah daripada kami mumet, diputuskan untuk mudik aja dulu akhir tahun. Refreshing di kampung halaman!


Balik dari liburan, ternyata proses pengecatan masih belum selesai. Tinggal part pintu dan jendela aja yang belum dicat. Jadinya kami perlu bersabar lagi untuk menunggu rumah tersebut siap ditempati. Kira-kira akhir bulan Januari semua proses renovasi sudah selesai. Alhamdulillah ya Allah.

Begitulah kira-kira cerita saya tentang pengalaman setelah membeli rumah second. Ternyata masih banyak part-part yang musti diperbaiki. Pengalaman bertemu dengan berbagai jenis tukang pun juga ga bisa diabaikan. Saran saya pilihlah tukang yang direkomendasikan orang terpercaya...hehehe..

Oh ya di postingan lain saya mau cerita lebih detail tentang part-part renovasi yang kami lakukan. Bukan niat apa-apa sih, cuma sebagai pengingat aja nanti kalau kami udah tua. Kalau blogspot belum bangkrut kan kami bisa baca-baca lagi pengalaman saat renovasi rumah, bagaimana suka dukanya kami memperjuangkan rumah yang kotor dan agak rusak menjadi rumah yang layak untuk tempat kami tinggal..hohoho..

Baca : Renovasi Rumah Part 1, Part 2, dan Part 3


See you on my next post.. :)

Sumber gambar :
Rumah : https://image.indonetwork.co.id/companies/thumbs/239x239/2012/05/29/75171a385b3ee115a075db73a6634bd9.jpg 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @granitprihara