Jumat, 04 Agustus 2017

# curhat # unexpected

Cerita Sakha Ngamar Di Rumah Sakit

Kali ini langit kelabu sekali lagi menghampiri keluarga kami. Yes kabar duka datang lagi, saya sampai mellow sendiri kok ya masih ada kejadian ga mengenakkan yang menimpa Sakha. Parahnya kejadian itu terjadi saat mendekati hari ultah Sakha. Masih ingat kan tahun lalu Sakha jatuh dari motor, kepalanya kejedug lis jendela dan musti dijahit.. Kami sangat sedih sekali..


Nah kali ini sekali lagi kami melakukan kesalahan dan kecerobohan sebagai orang tua. Sampai saya sedih sendiri, orang tua macam apa kami? Masih aja sering kebobolan dan lengah saat menjaga Sakha. Jadi ceritanya kami sudah bagi tugas, bahwa yang bertugas memandikan Sakha saat hari aktif adalah ayah Sakha, sedangkan saya mandi duluan kemudian menyiapkan kebutuhan saya untuk ke kantor.

Selesai berganti baju untuk bersiap diri berangkat ke kantor, saya menyiapkan pula handuk, minyak telon dan parfum yang akan dipakai Sakha saat berganti baju. Selesai memandikan Sakha, ayah Sakha masih sibuk dengan bak mandi, sedangkan saya masih sibuk dengan handuk Sakha di ruang tengah. Saat lengah itulah, selesai mandi Sakha langsung lari ke arah saya, keset cuma sebentar. Alhasil Sakha kepleset karena di kakinya masih ada bekas air, dan apesnya kepalanya duluan membentur lantai. Walaupun kepala Sakha membentur lantai yang dilapisi evamat, tapi saya yakin kalau benturan itu sakit banget karena Sakha sampai menangis histeris.

Setelah meredakan tangisan Sakha, Sakha udah kelihatan ceria lagi. Aktifitas pagi pun kami lakukan seperti biasa. Sakha berangkat ke daycare dengan ceria, kami berangkat kerja dengan tenang. Tapi saat siang hari tiba, bunda daycare bilang kalau Sakha muntah, demam tinggi dan lemes. Langsung lah kami bawa Sakha ke RS. Sempat galau juga mau bawa ke RS mana akhirnya kami bawa Sakha ke RS X walaupun lokasinya lumayan jauh dari tempat tinggal kami. Dengan pertimbangan kalau dibawa ke RS Y yang lebih dekat, Sakha belum pernah periksa disana sama sekali takutnya malah lama prosesnya. Kalau dibawa ke RS Z, RS tersebut tidak bekerja sama dengan asuransi yang kantor kami gunakan. Kalau mau reimburse pasti prosesnya ruwet. Jadilah Sakha kami bawa ke RS X tadi.


Sampai di RS X pihak resepsionis menyarankan agar Sakha dibawa ke UGD supaya penanganannya cepat, karena di jam itu ga ada dokter anak yang available. Sampai di UGD Sakha diperiksa. Kami takut banget karena Sakha ga kayak biasa, dia lemes banget plus suhu badannya 38.5. Dokter UGD pun mengobservasi dengan memberikan obat penurun panas. Setengah jam setelah Sakha minum obat demam, dia malah muntah lagi, demam pun tak kunjung turun. Di saat yang sama, ada dokter anak yang sudah praktek. Dokter UGD pun berkonsultasi dengan dokter anak tersebut. Akhirnya beliau-beliau menyarankan untuk dilakukan observasi lebih lanjut di RS, dengan kata lain Sakha harus opname di RS ini. Sebelumnya beliau-beliau menyarankan Sakha untuk CT Scan terkait dengan benturan di kepalanya. Kenapa CT Scan? Karena Sakha masih kecil, belum bisa mengeluh kalau pusing atau merasakan ga enak di kepalanya. Dengan CT Scan juga bisa diketahui apakah ada ketidaknormalan pada otak anak.

Percobaan CT Scan pertama pun dilakukan, namun hasilnya gagal. Sakha heboh panik saat ditidurkan di ranjang CT Scan. CT Scan pun ditunda, karena untuk CT Scan pasien harus dalam keadaan tenang atau tidur. Dokter bilang kalau nanti akan dilakukan CT Scan lagi. Supaya Sakha tidur nanti akan ada obat tidur yang harus diminumkan ke Sakha. Keluar dari ruang radiologi, Sakha lanjut observasi di ruang rawat inap. Sebelumnya dia meronta-ronta saat dipasang infus. Perawat gagal memasang infus di tangan kiri Sakha, alhasil tangan kanan Sakha ditusuk lagi. Pilu banget rasanya..

Kami ingin memakai bangsal rawat inap Kelas 1, namun sayang kamar tidak tersedia. Alhasil kami memakai bangsal rawat inap Kelas 2, sekamar berisi empat orang. Rasanya beneran ga enak banget satu kamar diisi banyak orang sakit. Walaupun tetangga sekamar kami ramah-ramah namun kadang standart kebiasaan yang tidak sama dengan kami membuat kami memendam jengkel.

Ga jengkel gimana coba. Di saat pasien anak tetangga sekamar kami baru saja menginjakkan kaki di ranjang rawat inap, sang ibu malah asik video call'an untuk siaran ke seluruh sanak saudaranya dan ke seluruh teman-temannya kalau anaknya lagi dirawat di RS X ini. Padahal saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 dimana harusnya itu adalah waktu untuk pasien istirahat. Saya sampai menghitung berapa kali si ibu video call an malam itu, total sampai 7 kali! Hal itu juga diulangi di siang hari keesokan harinya saat semua pasien anak tidur, si ibu tadi juga mengulangi aksinya bervideo call'an ria! Sementara anaknya yg sakit dikasih mainan HP supaya anteng.. zzzz.. Karena kebisingan itu Sakha dan pasien anak lain kebangun dari tidur siangnya.

Okelah daripada ngomongin kelakukan ibu itu yang bikin gemes, dilanjut lagi cerita Sakha selama opname di RS ini. Sakha mulai rawat inap hari Rabu sore hari. Saya resume dah cerita Sakha rawat inap per harinya.. Cekidot..

Rabu Sore
Sakha masih lemes, tapi senengnya dia doyan makanan RS. Namun sayang selesai makan dia malah muntah-muntah lagi. Obat anti mual dan antibiotik injeksi pun diberikan. Sakha sempat histeris banget saat perawat menyuntik sedikit antibiotik ke tangannya, untuk diketahui apakah ada alergi atau tidak. Sakha udah trauma banget sama yang namanya jarum suntik.

Selesai diberikan obat anti mual dan antibiotik, Sakha malah diare. Ga tau pasti penyebab diare ini. Apakah dari obat atau dari kebersihan kamar. Kalau dari makanan, Sakha cuma makan makanan dari RS saja. Mengetahui Sakha diare, dokter lebih fokus ke diare Sakha dari pada observasi tentang benturan kepala Sakha. Rencana CT Scan hari itu menjadi wacana.

Kamis
Sakha sudah tidak muntah-muntah lagi, tapi diare masih aja keluar mulai pagi sampai siang. Kadar pupnya udah encer banget. Perawat memberi obat lacto B dan zinc. Selesai minum itu alhamdulillah diare Sakha sudah sembuh.

Kabar gembira datang, kamar Kelas 1 sudah ready. Alhamdulillah Sakha bisa pindah kamar ke Kelas 1. Sekamar berisi dua orang pasien, lebih tenang dan nyaman. Alhasil kami semua bisa tidur nyenyak. Selang berapa jam setelah pindah kamar, berita kelanjutan CT Scan datang. Rencananya Sakha akan di CT Scan lagi, tapi sebelumnya Sakha harus diminumi obat tidur dulu biar tenang.

Sakha sukses minum obat tidur sekitar pukul 17.00. Drama banget saat nyuruh Sakha minum obat tidur ini, sampai perawatpun turun tangan. Kami obat tidur Sakha bereaksi lama banget. Yang ada malah selesai minum obat ini Sakha semakin aktif ga bisa dikontrol. Capek beraktifitas, sekitar pukul 21.00 Sakha sudah mengantuk. Saya goyang-goyangkan kepala Sakha, saya gelitikin kaki Sakha, dia tidak bereaksi. Langsung saya kontak perawat untuk membawa Sakha ke ruang radiologi. Sampai ruang CT Scan, lagi-lagi Sakha kebangun saat ditidurkan. Percobaan kedua CT Scan kedua pun gagal lagi.

Perawat menyarankan untuk membawa Sakha CT Scan lagi saat Sakha udah mulai tidur pulas. Sekitar pukul 03.00 Sakha udah bobok pulas. Kami gelitikin dia juga engga bangun, lanjut kami hubungi perawat lagi buat bawa Sakha ke ruang radiologi. Perawat menggeledek ranjang Sakha ke ruang CT Scan, kemudian kami memindahkan Sakha ke ranjang CT Scan. Tapi tetep aja lagi-lagi Sakha kebangun. Percobaan CT Scan ketiga pun gagal lagi.

Kami sempat dilanda putus asa. Perawat bilang akan menyampaikan kejadian kegagalan ini kepada dokter spesialis syaraf. Jadi kami balik lagi ke kamar untuk istirahat.

Jumat
Pagi ini dokter syaraf ada jadwal visit Sakha, beliau bilang kalau dari tanda-tanda fisiknya Sakha masih normal, ga ada kejanggalan. Trus kami ditanya apakah kepala Sakha sering membentur sesuatu. Kalau kepala sering membentur sesuatu sebaiknya dilakukan CT Scan supaya jelas diketahui apa efek dari benturan tersebut. Rencananya dokter akan memberikan obat tidur yang dosisnya ditambah, berharap supaya Sakha bisa anteng saat di CT Scan.

Sekitar pukul 14.00 Sakha minum obat tidur. Kali ini obat tidur diminum di ruang radiologi. Sakha meronta-ronta saat diminumi obat. Kami kewalahan sekali karena sebagian obat tersebut ada yang dilepeh Sakha. Alhasil obat tidur yang ditambah dosisnya ini tidak bereaksi sama sekali. Fiuhhh.

Sedih banget kami, karena untuk melakukan CT Scan perlu perjuangan yang ekstra keras. Saya sungkan juga sama suster dan petugas bagian radiologi, karena berkali-kali rencana CT Scan Sakha gagal. Kami ingin banget lekas keluar dari rumah sakit, tapi karena harus menjalani CT Scan yang tertunda ini jadinya kami tetap harus stay disini.

Perawatpun menyarankan untuk dilakukan CT Scan nanti malam saat Sakha tidur alami. Kami pun mengiyakan, dengan berat hati misal nanti malam Sakha gagal lagi melakukan CT Scan lebih baik kami pulang dan CT Scan bisa dilakukan lain kali saja.

Malam harinya sekitar pukul 20.00 Sakha sudah kelihatan tidur nyenyak. Sebelumnya yang menggendong Sakha ke ruang radiologi adalah ayahnya, kali ini gantian saya yang menggendong. Sampai ruang CT Scan, kami meminta lampu dimatikan. Selain itu perawat melapisi ranjang CT Scan dengan selimut supaya tidak dingin. Saat saya meletakkan Sakha di ranjang itu, ternyata Sakha hanya melek sebentar kemudian tidur lagi. Betapa bahagianya kami semua!

Petugas radiologi pun dengan cekatan melakukan proses CT Scan. Kira-kira setelah lima menit menunggu, proses percobaan CT Scan keempat ini berhasil dilakukan. Terimakasih buat semua petugas dan perawat yang membantu :'D *terharu

Bagian radiologi bilang kalau hasil CT Scan ini akan selesai sekitar pukul 21.00 tergantung dokter radiologinya ready atau engga. Kami pun balik ke kamar lalu istirahat.

Sabtu
Pagi ini perawat bilang kalau hasil CT Scan sudah ready. Hasilnya sudah dikirimkan ke dokter syaraf dan dokter anak. Kami bertekad supaya hari ini kami bisa checkout dari RS ini sebelum pukul 12.00, karena batas akhir checkout adalah pukul 12.00. Selebihnya biaya kamar harus dibayar penuh.

Kenapa kami bertekad untuk checkout? Karena Sakha sudah membaik, tidak ada tanda-tanda lemas, muntah, demam dan diare lagi. Sakha juga sudah mulai aktif, kewalahan sekali kalau lihat dia aktif tapi masih terpasang infus di tangannya.

Kami mengutarakan ingin pulang paksa ke perawat jaga. Perawat bilang sebaiknya menunggu dokter visit dulu. Akhirnya dokter anak yang ditunggu pun datang. Beliau bilang di otak Sakha terjadi pembengkakan, selanjutnya bisa kontrol ke dokter syaraf karena kami minta pulang.
Namun sayang dokter syaraf yang kami tunggu tak kunjung membalas, padahal jam sudah hampir menunjukkan pukul 12 siang. Ya mungkin karena hari ini hari Sabtu dan dokter tersebut ga ada jadwal visit. Akhirnya sekali lagi kami meminta pulang paksa ke perawat. Rencananya setelah pulang kami ingin konsultasi tentang hasil CT  Scan ini ke dokter syaraf lain yang masih available, supaya lebih cepat.
Setelah dilakukan mediasi akhirnya pihak rumah sakit memberikan surat permintaan pulang paksa. Kamipun menandatanganinya. Sebelum pulang kami membayar tagihan rawat inap secara tunai. Pikir kami supaya lebih cepat dari pada menunggu proses verifikasi yang lama. Toh ujung-ujungnya setelah verifikasi uang kami tetap dikembalikan kan..hoho.. Akhirnya kami pulaaaaanng... senangnyaaa..

* * *

Sampai rumah kami search di internet ga ada dokter syaraf yang praktek di hari Sabtu. Akhirnya kami memutuskan untuk ke dokter syaraf keesokan harinya. Keesokan harinya saat diperiksa dokter Sakha ga takut sama sekali. Selesai melakukan cek fisik Sakha, dokter kemudian memeriksa hasil CT Scan beserta catatan dari radiologi. 

Benar memang catatan radiologi ada hasil Oedema Cerebri. Namun dilihat dari foto CT Scan dokter mengatakan kalau pembengkakan di otak Sakha masih normal, dengan kata lain masih ringan. Tidak ada tanda-tanda pendarahan di sana. Strukur tengkoraknya pun normal. Beliau bilang insyaAllah tidak terlalu serius, asal Sakha dijaga benar supaya kepalanya tidak boleh terbentur lagi. 

Pemeriksaan fisik Sakha pun hasilnya baik, tidak ada tanda-tanda pupil besar sebelah. Tidak ada tanda-tanda motorik Sakha mengalami gangguan. Puji syukur Alhamdulillah kami tenang sekali mendengarnya. Terimakasih ya Allah...

Sekian cerita saya yang super duper panjang sekali. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari pengalaman buruk kami ini. Semoga kita sekeluarga semua selalu diberi kesehatan dan keselamatan oleh Allah SWT. Amiin. Oh ya jangan lupa selalu sediakan keset yang 'keset' supaya saat selesai mandi kaki si kecil tidak basah. Thanks for reading yaaa.. ^_^

Sumber gambar :
Title : http://www.allinhindi.com/wp-content/uploads/2015/08/Comedy-Story-in-Hindi1.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @granitprihara