Kamis, 01 September 2016

# mom & kids # unexpected

Bersahabat Dengan Cacar Air

Kali ini saya akan berbagi cerita panjang tentang Sakha yang terkena cacar air beberapa waktu lalu. Bulan Agustus kemarin kayaknya merupakan bulan yang cukup berat buat kehidupan kami, saya ngerasa adaa ajaaa cobaannya :). Masih ingat kan kepala Sakha yang musti dijahit karena dia jatuh dari motor dan kepalanya kejedug pinggiran jendela. Daerah deket alisnya bocor, jadi musti dijahit dah.


Setelah luka jahitan Sakha sembuh, dia masuk daycare lagi. Apalagi sudah mendekati ulang tahun Sakha yang kedua, rencananya akan bagi-bagi goodie bag nanti waktu ultahnya di daycare. Hari Selasa masuk daycare, hari Rabunya Sakha ultah. Segala cerita waktu Sakha ultah bisa dilihat di postingan saya yang lain.


Pulang dari daycare Sakha masih ceria-ceria aja. Masih sempat tiup lilin dan makan kue, sambil foto-foto juga. Memulai bobok malam pun ga pake rewel. Dinyanyiin sebentar langsung bobok dia. Di tengah malam Sakha kebangun garuk-garuk beberapa bagian tubuhnya. Saya pun respon dengan menyalakan lampu supaya bisa melihat bagian tubuh mana yang gatal. Pas saya lihat waktu itu ga ada tanda-tanda bintil sama sekali. Saya pun cuma mengoleskan minyak tawon di bagian yang digaruk Sakha, dia pun balik tidur lagi.

Paginya pas mandikan Sakha saya melihat bintil kecil di lengannya. Aduh, deg-degan rasanya. Karena kemarin bunda daycare bilang ada temen Sakha yang kena cacar. Hari itu Sakha tetep ke daycare, saya masih berharap kalau yang di lengan Sakha itu bukan cacar.. T_T
Sorenya sebelum pulang, bunda daycare memberi tahu kalau di perut Sakha ada bintil-bintil juga. Aduhhh, tambah mules saya. Pulang dari daycare saya langsung bawa Sakha ke dokter langganan, untuk memastikan apakah Sakha beneran cacar atau engga.

Sampai di RS saya kecewa karena dokter langganan hari itu izin tidak praktek, terpaksa kami ke seadanya dokter anak di RS tersebut. Dokter mengatakan kalau memang Sakha terkena cacar air dan dikasih obat puyer acyclovir. Saya dan suami menanyakan apa ga perlu dikasih salep atau bedak juga untuk meredakan gatal. Dokter bilang ga usah cukup obat minum saja, nanti kalau 4 hari belum sembuh suruh balik lagi dan kalau bisa jangan boleh digaruk cacarnya. Saya dan suami sedikit kecewa dengan jawaban dokter tersebut. Karena menurut kami mana ada anak umur 2 tahun yang bisa tahan gatalnya :| Mungkin dia bisa disounding jangan digaruk kalau gatal, tapi apa jadinya waktu dia bobok dan menggaruk secara ga sadar! Saya agak ilfeel sama dokternya karena cara bicara orangnya yang ga begitu enak, ah sudahlah,, semoga ga balik kesana lagi.

Sebelum tidur malam saya meminumkan obat puyer ke Sakha, alhamdulillah drama minum obat cuma sebentar, ujung-ujungnya dia mau minum obat dengan sukarela. Saya berharap obat tersebut segera bereaksi. Malam itu Sakha boboknya kurang nyenyak, kebangun-bangun karena gatal. Saya dan suami sempat bingung gimana bilang ke Sakha kalau gatel jangan digaruk. Bolak balik udah disounding tapi tetep aja digaruk pas bobok. Setelah AC di kamar diset dingin maksimal, Sakha lumayan nyenyak boboknya.

Paginya pas mandikan Sakha, bintik-bintiknya masih ga terlalu banyak. Saya tetap menitipkan Sakha ke daycare, karena cuti saya habis. Selain itu bunda daycare pernah bilang kalau kondisi sakit tertentu anak bisa dititipkan namun nanti disana dia diisolasi ga boleh main sama temen-temennya. Bunda daycare juga bilang ada beberapa anak yang kena cacar tapi tetep masuk tapi diisolasi disana. Pulang dari daycare hari itu saya melihat bintik-bintik di tubuh Sakha tambah banyak, paling banyak di bagian perut dan punggung.
Cacar di punggung Sakha
Besoknya pas selesai mandi pagi saya kasih Sakha bedak Salicyl. Saya ga tega liat Sakha kegatelan, eh bahasanya kok aneh,,hehe,, maksudnya garuk-garuk gatal. Saya kasih bedak bukan di bagian bintilnya, tapi di sekelilingnya supaya kulit yang masih normal ga ketularan gatel juga. Bah bah, dokter bilang ga boleh kasih bedak atau salep. Tapi menurut saya ini membantu banget, karena Sakha merasa nyaman dan keinginan buat garuk-garuknya berkurang. Walaupun beberapa jam kemudian dia "usrek-usrek" kegatelan lagi. Itu tandanya harus dikasih bedak lagi. Bintil cacar Sakha bertambah banyak, paling banyak di bagian perut dan punggung, di wajah malah ga ada. Oh ya ada juga bintil di bagian leher yang sudah mulai pecah.

Hari Sabtu itu berarti sudah 3 hari Sakha cacar (mulai cacar Kamis pagi). Hari ini banyak bintil yang pecah. Aneh sekali cacar Sakha, karena ada bintil yang di dalamnya berisi air bening, ada juga bintil yang di dalamnya berisi air berwarna agak kuning. Ada juga beberapa bagian yang melepuh seperti luka bakar. Saya sangat sedih melihat keadaan Sakha, apalagi bintil-bintil itu ada di lipatan lehernya juga. Bintil itu mulai pecah jadi bagian tersebut sangat lembab. Pas Sakha bobok, bagian yang lembab itu akan tertutup dengan lipatan leher dan membuat luka semakin lembab dan melebar.

Hari itu saya memasang status di facebook, karena ingin berbagi kegalauan tentang cacar ini, siapa tau ada teman yang komen agar cacarnya lekas membaik. Ternyata malah dimessage sama manager saya, beliau menanyakan keadaan Sakha. Setelah chit chat lumayan lama, manager memaklumi kalau memang saya izin ga masuk kerja untuk menjaga Sakha walaupun cuti saya sudah habis. Alhasil cuti saya minus dah.. :D

Hari keempat bintil yang pecah semakin banyak, membuat lukanya semakin melebar. Saya ngeri sendiri melihat kulit Sakha karena cacar yg melebar itu memerah sampe kelihatan dagingnya dan seperti memiliki mata di tengahnya. Setiap selesai mandi saya rajin memberikan revanol dan betadine, supaya luka Sakha lekas mengering. Selesai mandi pasti ada drama Sakha menangis, mungkin karena dia kesakitan diolesin betadine. Ada pula drama kejar-kejaran karena Sakha akan lari setiap melihat saya membawa kapas dan betadine. Kurang lebih seperti ini bagian terparah dari luka Sakha.
Sampe berborok kayak gini :'(
Saat Sakha sakit seperti ini saya memandikan Sakha tidak menggunakan sabun, tapi memakai Lactacyd baby. Sakha ceria banget waktu mandi, dia ga ngerasa perih atau apa, padahal kulitnya banyak yang luka. Hari Senin dan Selasa saya mengambil cuti untuk menjaga Sakha di rumah. Sakha tetap minum puyer acyclovir, lukanya tetap saya bersihkan memakai revanol dan betadine. Saya selalu mengipasi bagian luka Sakha supaya tidak terlalu lembab. Kalau hari ini hari Selasa berarti Sakha sudah sakit selama 6 hari...huhuhu..

Hari ketuju banyak bagian luka cacar yang sudah mengering. Yang bikin saya bahagia itu luka di bagian lipatan lebernya udah mulai menghitam dan kering, karena emang sebelumnya bagian ini lembab banget sampe menimbulkan bau agak ga enak. Rutinitas kipas-kipasin Sakha dan memberi bedak masih tetap dilakukan, supaya Sakha tetep ngerasa dingin dan nyaman. Walaupun lukanya dah mulai mengering tapi rasa pengen garuknya malah semakin menjadi-jadi. Tahu sendiri lah rasa gatelnya luka yang hampir sembuh itu kayak gimana.

Besoknya karena luka cacar Sakha udah banyak yang mengering (tinggal beberapa aja yang masih lembab menuju ke proses pengeringan), Sakha masuk ke daycare. Saya membawakan Lactacyd baby untuk Sakha mandi, revanol dan betadine untuk beberapa luka Sakha yg belum mengering. Obat minum dari dokter juga sudah habis, berarti harusnya Sakha sudah semakin membaik. Ternyata bunda daycare tidak memberikan revanol dan betadine, karena ternyata luka Sakha sudah kering.. senangnya Sakha berangsur pulih.

Jadi kesimpulannya cacar air bisa sembuh sendiri. Untuk orang dewasa bisa sembuh sekitar 1 - 2 minggu. Sedangkan untuk anak kecil bisa sembuh sekitar 1 minggu hingga sepuluh hari. Jadi tepat 7 hari cacar Sakha sudah pecah semua, sekarang tinggal bekasnya saja. Untuk bekas cacar ini ada yang bilang bisa hilang sendiri karena proses regenerasi kulit anak yang cepat, ada juga yang bilang akan bopeng selamanya. Saya mencoba memberi parutan jagung muda di bagian bekas cacar Sakha. Saya membaca di internet banyak yang merekomendasikan resep itu. Lumayan lho hasilnya bekas cacar di leher Sakha hampir tidak berbekas :) Parutan jagung muda ini belum banyak saya aplikasikan ke bekas luka yang lain. Semoga setelah diaplikasikan bekas luka Sakha di bagian tubuh yang lain bisa menghilang.

Demikianlah cerita panjang saya tentang cacar air yang menimpa Sakha. Di awal-awal saya dilanda kepanikan, tapi seiring waktu saya berusaha bersyukur dan bersahabat dengan cacar ini. Pasti ada hikmah kan di balik kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Bagi ibu-ibu yang anaknya juga sakit cacar air, berikut ada beberapa catatan dari pengalaman saya :
  1. Jangan panik, anggap cacar air ini adalah satu fase yang harus dilalui anak. Semakin muda anak mengalaminya maka semakin bagus menurut saya :D. Karena kalau mengalaminya pada saat sekolah, bisa jadi nanti dia ga dibolehin masuk sekolah dengan waktu yang lama dan otomatis akan ketinggalan pelajaran. Selain itu semakin muda umur anak maka proses regenerasi kulitnya semakin cepat.
  2. Sebaiknya selain meminta obat minum, orang tua harus meminta obat oles atau bedak kepada dokter. Hal tersebut berguna untuk meredam rasa gatal dan untuk membuat rasa nyaman, sehingga anak ga terlalu sering menggaruk.
  3. Tetap mandikan anak. Ada beberapa orang yang bilang kalau orang cacar tidak boleh mandi. Saya ga setuju dengan hal tersebut. Cacar kan virus, jadi harus rajin dibersihkan dong dengan cara mandi. Jangan memakai sabun antiseptik biasa, lebih baik memakai sabun anti ruam, semisal Lactacyd baby.
  4. Selalu jaga agar anak tidak banyak berkeringat, karena itu akan membuat rasa gatal semakin bertambah. Saya mensiasati ini dengan sering mengipasi anak dan menyalakan AC di suhu yang dingin. Selain itu saya juga memakaikan baju berbahan katun yang pastinya dapat menyerap keringat.
  5. Kalau cacar tak kunjung sembuh, bersabarlah :) Karena cacar pasti sembuh, tergantung tingkat imunitas anak. Daripada bermellow ria menganggap Tuhan ga adil karena memberi anak kita cacar kok anak orang lain engga, lebih baik banyak berdoa dan jangan lupa untuk memperhatikan asupan gizi anak. Siapa yang bisa melawan virus? Ya daya tahan tubuh sendiri. Jadi berilah anak makanan bergizi, cukup sayur dan buah. Jangan lupa mimik susu juga.
  6. Horee, kalau cacar air sudah sembuh, mulailah bersahabat dengan bekasnya. Kadang ada yang cuma menimbulkan bekas setitik, ada juga yang menimbulkan bekas melebar seperti luka bakar. Sabar buk :) Untuk cara tradisional bisa mengolesi parutan jagung muda dan mendiamkan selama 10 menit sebelum anak mandi.
Semangat. Karena ini semua hanya fase hidup yang harus dilalui. Bersabar dan bersahabatlah dengannya karena pasti ada pelajaran yang didapat. Karena hidup itu belajar :)
Sumber Gambar :
Kartun : http://doktermeta.blog.inharmonyclinic.com/wp-content/uploads/sites/7/2013/08/cacar-air1.jpg

3 komentar:

  1. Tak ada yang menyangka bahwa beberapa kesalahan bisa mengakibatkan ejakulasi dini atau impotensi. Sekedar informasi, ejakulasi dini adalah salah satu gangguan disfungsi ereksi yang membuat seorang pria tidak bisa mempertahankan penetrasi lebih lama lagi karena harus mengalami klimaks dalam waktu kurang dari 3 menit. Jika sudah seperti ini, pria yang mengalami masalah tersebut akan mulai mencari obat kuat atau viagra agar bisa lebih tahan lama saat bercinta dengan pasangannya.

    Kesalahan Besar yang Bisa Sebabkan Ejakulasi Dini

    Namun, masalah impoten tidak hanya bisa sembuh sekejap dengan obat impoten atau obat kuat pria yang banyak dijual di pasaran. Anda perlu mencari tahu terlebih dahulu mengenai kesalahan besar yang dapat menyebabkan ejakulasi dini sebelum mengonsumsi bermacam-macam obat impoten. Sebelum sibuk mencari cara tahan lama di ranjang, kenali kesalahan besar yang bisa sebabkan ejakulasi dini berikut ini.

    Permasalahan mengenai ejakulasi dini tidak hanya meliputi kemampuan penis agar lebih lama melakukan penetrasi sebelum mencapai klimaks. Kebanyakan orang sibuk menggunakan viagra agar dapat lebih tahan lama saat bersenggama. Mereka melupakan masalah sensitivitas penis.

    Tahukah Anda bahwa sensitivitas penis sangat penting agar Anda dapat merasakan sensasi yang luar biasa? Kepekaan penis memiliki kontribusi agar Anda bisa melakukan kontrol penuh terhadap ejakulasi.

    Bagian penis yang paling sensitif adalah kepala penis. Jika kepala penis ini mengalami gesekan terus menerus, maka Anda akan lebih mudah mengalami ejakulasi. Untuk mengurangi gesekan pada kepala penis, di awal penetrasi sebaiknya penis hanya masuk ke dalam vagina setengah bagian saja.

    Andrologi | Mengatasi ejakulasi dini

    Infeksi saluran kemih | Gangguan fungsi seksual

    Klik chat | Free chat

    BalasHapus
  2. Aaaakkkkk 😭😭😭😭 lagi galau Maksimal gara2 anakku cacar airnya Makin lama Makin membesar... Ternyata bunda sakha juga mengalami hal Yang Sama... Makasih ya share nya bun... Aku bener2 lega banget... Karna emang artinya bekas cacar melebar itu emang fasenya... Makasih ya bun... Sehat terus utk bunda Dan sakha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah..maaf mba baru baca komen ini..baru sempat balas juga..
      Semoga anaknya mba lekas membaik ya.. dan sehat terus untuk mba & keluarga.. :)

      Hapus

Follow Me @granitprihara