Jumat, 12 April 2019

# curhat

Sakha Kena Demam Berdarah

Agaknya bulan Maret menjadi salah satu bulan termellow saya setelah Februari lalu. Masih inget kan bulan lalu saya curhat tentang banyaknya ujian hidup yang terjadi. Saya berharap di bulan Maret ini hidup akan berjalan lebih smooth. Rupanya tidak semudah itu Ferguso!


Pas banget di ulang tahun saya, di hari Selasa, sepulang sekolah Sakha muntah di mobil saat perjalanan pulang. Malam hari rencana saya tiup lilin kecil-kecilan bareng anak-anak pun pupus karena Sakha demam 38 derajat. Sakha langsung bobok cepet setelah minum obat demam. Alhamdulillah besok paginya Sakha ceria seperti biasa.
Doa ultah tahun ini
Keesokan harinya Sakha tetap sekolah. Pulang sekolah dikabarin bunda pengajar kalau Sakha tadi demam pas bobok siang, setelah diminumi obat langsung demamnya turun dan ceria seperti biasa. Malam hari di rumah, Sakha tidak demam. Alhamdulillah kami lega. Tapi keesokan harinya Sakha demam hanya di malam hari saja. Saya inget banget masuk pukul 20.00 Sakha mulai kelihatan ga nyaman. Saat ditemp ternyata suhunya 38 derajat.

Pattern demam saat malam ini berlangsung dalam beberapa hari. Tiap malam mata Sakha terlihat kuyu, seperti kecapekan. Dokter anak langganan keluarga kami praktek di hari Senin, Rabu dan Jumat. Hari Jumat sepulang kerja kami berniat memeriksakan Sakha ke dokter, tapi saat menjemput Sakha di sekolah kami melihat Sakha ceria seperti biasanya. Sakha juga bilang kalau dia tidak sakit. Di rumah kami juga melihat Sakha aktif seperti biasa dan maemnya tetap banyak, yaudah planning ke dokter ditunda dulu 

Sabtu dini hari Sakha boboknya tidak nyaman, rupanya dia demam lagi. Ditemp 38 derajat, langsung minum obat dan demamnya turun. Sabtu pagi kami ada jadwal untuk mengambil middle semester report di sekolah Sakha. Saat persiapan berangkat kami melihat hidung Sakha keluar darah. Paniklah sudah, Sakha mimisan!

Rencana mengambil middle report ditunda dulu, kami langsung cuz ke Rumah Sakit untuk memeriksakan Sakha. Pikir kami selesai periksa baru ambil middle reportnya gitu. Sebenernya feeling di hati paling dalam saya mengatakan kalau penyakit Sakha ini serius, kalau misalnya harus rawat inap kami harus memilih RS yang nyaman.

Pengalaman Sakha menginap di suatu RS megah di Jogja beberapa tahun lalu membuat saya agak trauma, jadinya saya coret pilihan RS itu. Kalau mau ngejar dokter langganan kami, rumah sakit tempat beliau praktek agak "sepi" gitu gedungnya. Takutnya bikin kami gak nyaman.


Akhirnya saya teringat pengalaman waktu medical check up di Siloam Hospital beberapa waktu lalu. Saya pikir ini rumah sakit baru, tentunya pelayanannya masih prima-primanya gitu. Setelah berembug dengan Pak Yayan akhirnya kami memutuskan memeriksakan Sakha ke dokter anak Siloam Hospital.


Sabtu pagi itu dokter anak yang praktek adalah Dokter Melna. Dokternya ramah dan sangat komunikatif. Mirip seperti dokter anak langganan kami di RS lain. Setelah melakukan pemeriksaan fisik terhadap Sakha dan bertanya tentang riwayat demamnya, dokter curiga kalau Sakha terkena Demam Berdarah (DB). Akhirnya beliau merekomendasikan untuk test darah supaya hasilnya lebih akurat. Oh ya saat pemeriksaan dokter itu suhu Sakha tinggi banget sampe 39 derajat. Saya kaget banget, karena Sakha masih aktif dan tidak rewel. Setelah coba dicek ulang suhunya ternyata 38 derajat. Jadinya sambil menunggu test darah Sakha harus minum obat penurun demam dulu.

Hore akhirnya Sakha dipanggil untuk test darah. Sempat ketar ketir juga karena pasti Sakha akan berontak dan nangis. Akhirnya supaya semua terkondisi Sakha dibedong deh kakinya. Daripada dia jingkat-jingkat trus gagal ambil darahnya..fiuuh...  Dulu waktu bayi Sakha juga pernah nangis-nangis meronta-ronta saat diambil darah dan waktu itu saya juga ikutan nangis! Sekarang saya harus lebih kuat, walaupun sedih ga boleh ikut nangis juga.. 

Setelah beberapa saat hasil lab keluar. Dokter membacakan hasil pemeriksaan darah Sakha. Trombosit Sakha masih normal di angka 161.000 ┬ÁL, tapi hasil pemeriksaan rapid NS1 menunjukkan Sakha positif DB.
Hasil test darah
Dokter memberi pilihan kepada kami apakah mau rawat jalan atau rawat inap. Kalau rawat jalan harus benar-benar dilakukan pemantauan di rumah, gimana maemnya Sakha, minumya, pipisnya, pupnya, dll. Dan setiap 24 jam harus balik ke rumah sakit untuk dilakukan test darah guna pengecekan trombosit. Jika terjadi kondisi darurat harus langsung ke RS juga.

Karena kami gak mau mengambil resiko terburuk, setelah berembug dengan Pak Yayan diputuskan kalau Sakha akan rawat inap saja. Cerita rawat inap di RS Siloam akan saya tulis di postingan selanjutnya ya.

Yang pasti alhamdulillah sekarang Sakha sudah sembuh. Demam Berdarah sangat berbahaya apabila terlambat ditangani. Saya pernah baca kalau demam berdarah justru berbahaya pada anak yang imunnya baik. Hampir mirip seperti kasus Sakha ini, walaupun demam tapi polahnya tetap aktif dan ceria. Jadi menurut kami sebaiknya jika anak mengalami demam naik turun selama tiga hari, muntah atau terjadi pendarahan kecil sebaiknya langsung di test darah saja. Test rapid NS1 terbukti mampu memberikan hasil test DB akurat pada saat anak mengalami demam 1-4 hari. Sehingga keterlambatan penanganan bisa diminimalisir. (Barusan googling tentang NS1 btw )

Oke sekian sharing saya, semoga teman-teman pembaca sekalian sehat semua sekeluarga ya.. See you on my next post.. Ingat pelangi muncul setelah hujan. Saya masih berharap bulan April ini menjadi pelangi penyejuk hati setelah mendung dan hujan di bulan sebelum-sebelumnya..hehehe..


Sumber gambar :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Me @granitprihara